Terungkap! Rencana Rahasia Mossad di Balik Perang Iran-Israel: Gagal Total

Tiga minggu sudah konflik memanas di Timur Tengah. Namun di balik dentuman bom dan gempuran militer, sebuah rahasia besar baru saja terungkap. Bukan sekadar perang biasa, The New York Times membongkar rencana jahat yang dipersiapkan matang sejak berbulan-bulan lalu oleh Mossad dan AS. Rencana untuk menggulingkan Iran dari dalam—tapi mengapa hasilnya tidak sesuai harapan? Simak investigasi selengkapnya.”

Sebuah laporan eksklusif dari The New York Times mengguncang publik internasional. Terungkap bahwa perang yang berkobar antara Israel dan Amerika Serikat melawan Iran sejak akhir Februari lalu bukanlah sebuah konflik spontan. Di balik negosiasi yang sempat berlangsung antara AS dan Iran, ternyata Israel telah mematangkan rencana aksi yang sangat ambisius.

Laporan itu mengungkap, kepala dinas intelijen luar negeri Israel, Mossad, David Barnea, menyampaikan sebuah rencana kontroversial kepada Perdana Menteri Benjamin Netanyahu. Rencananya, Mossad akan menggalang oposisi Iran untuk memicu kerusuhan massal hingga runtuhnya pemerintahan Iran. Netanyahu menyetujui rencana ini dan bahkan disampaikan kepada pejabat senior pemerintahan Donald Trump pada pertengahan Januari lalu.

Strateginya pun jelas: membunuh para pemimpin Iran di awal konflik, diikuti operasi intelijen untuk mendorong perubahan rezim. Keyakinan mereka kuat. Mereka pikir pemberontakan massal akan terjadi dan perang bisa berakhir cepat. Hal ini tercermin dalam pidato awal Trump yang memprovokasi warga Iran untuk “mengambil alih pemerintahan” setelah pemboman selesai.

Baca Juga:   Aman! Dua Kapal Pertamina Berhasil Keluar dari Selat Hormuz, Kawasan Konflik Iran-AS

Namun, harapan itu pupus. Tiga pekan setelah perang berjalan, pemberontakan yang dijanjikan tak kunjung datang. Penilaian intelijen Amerika dan Israel justru menyimpulkan bahwa meski melemah, pemerintahan Iran masih utuh. Ketakutan terhadap aparat keamanan Iran dan kurangnya dukungan milisi etnis membuat rencana ini gagal total. Ironisnya, alih-alih runtuh, pemerintah Iran justru memperkuat posisi dan meningkatkan eskalasi konflik di kawasan Teluk Persia.

Di balik layar, Netanyahu mengungkapkan kekecewaannya. Ia menyesali janji-janji Mossad yang belum membuahkan hasil, sembari khawatir Trump bisa mengakhiri perang kapan saja. Sementara itu, para pemimpin militer AS sudah memperingatkan bahwa warga Iran tidak akan turun ke jalan saat bom masih berjatuhan. Bahkan, mantan pejabat pemerintahan AS, Nate Swanson, menyatakan tidak pernah melihat rencana serius seperti ini selama bertahun-tahun bekerja di kebijakan Iran.

Salah satu elemen paling kontroversial dari rencana ini adalah upaya melibatkan milisi Kurdi. Mossad disebut telah lama menjalin hubungan dengan kelompok Kurdi di Irak utara, dengan dukungan senjata dari CIA. Namun, gagasan ini pun menuai kegagalan. Trump secara eksplisit melarang Kurdi masuk ke Iran, sementara Turki sebagai sekutu NATO mengancam akan bereaksi keras. Presiden Patriotic Union of Kurdistan pun memperingatkan bahwa invasi Kurdi justru akan mempersatukan rakyat Iran melawan gerakan separatis.

Kegagalan memicu pemberontakan ini mengungkap satu fakta mendasar: perang tidak bisa dimenangkan hanya dari udara. Seperti yang dikatakan Netanyahu, “Anda tidak bisa melakukan revolusi dari udara.” Namun hingga kini, Israel masih berharap ada pasukan darat, sementara rakyat Iran sendiri tampaknya enggan menjadi pion dalam permainan geo-politik ini.

Baca Juga:   Prancis dan Uni Eropa Kompak Dukung Spanyol Tolak Bantu AS Serang Iran

Mossad dan AS sudah menyiapkan skenario jahat sejak Januari, tapi rakyat Iran ogah turun ke jalan. Dari Janji Pemberontakan hingga Larangan Kurdi!
Simak bagaimana strategi perang yang digadang-gadang “cepat selesai” ini malah berlarut-larut. FOLLOW akun ini untuk update berita geopolitik terkini lainnya.

Sharing