
Houthi Siap Bela Iran: Bakal Terjun Jika Negara Lain Ikut Serang Iran
Perang di Timur Tengah kini berada di ujung tanduk yang baru. Bukan hanya antara Israel dan Iran, tapi kini ancaman keterlibatan front baru datang dari Yaman. Kelompok Houthi secara terang-terangan mengeluarkan ultimatum: jika ada satu negara pun yang berani bergabung dengan AS dan Israel menyerang Iran, mereka siap terjun ke medan perang. Pertanyaannya, siapa yang akan jadi pemicu berikutnya?
Ketegangan di Timur Tengah memasuki fase baru. Juru bicara kelompok Ansharallah atau yang lebih dikenal dengan Houthi di Yaman, Yahya Saree, mengeluarkan pernyataan sikap yang sangat tegas. Pada Jumat kemarin, Saree menyatakan bahwa kelompoknya siap ikut bertempur membantu sekutunya, Iran, tetapi dengan satu syarat mutlak: jika ada negara baru selain Amerika Serikat dan Israel yang secara langsung menyerang Iran.
Saree secara spesifik menggarisbawahi bahwa Houthi akan melakukan intervensi militer jika ada negara baru yang bergabung dalam koalisi perang melawan Iran. Pernyataan ini keluar di tengah situasi di mana sejumlah negara Teluk, yang selama ini menjadi fasilitas pangkalan militer AS, mulai menimbang untuk ikut serta dalam serangan balasan.
Namun, bukan hanya soal serangan langsung ke Iran. Saree menyebutkan beberapa kondisi lain yang akan menjadi “peluru” bagi Houthi untuk turun tangan. Kondisi kedua adalah jika Laut Merah kembali dijadikan pangkalan atau jalur untuk menargetkan Iran, atau bahkan negara Muslim mana pun. Mengingat posisi geografis Yaman yang menguasai jalur laut strategis tersebut, ancaman ini bukan isapan jempol belaka.
Houthi juga berjanji akan turun tangan jika perang terus meningkat melawan Iran dan poros perlawanan. Dalam pernyataannya, Saree menyerukan agar Amerika Serikat dan Israel merespons upaya diplomatik internasional, karena menurutnya, agresi yang terjadi saat ini tidak adil, menindas, dan merusak stabilitas serta perekonomian global.
Lebih lanjut, Houthi tidak hanya berbicara soal perang. Mereka menggantungkan keterlibatan mereka pada tiga poin utama. Pertama, penghentian total agresi di Palestina, Lebanon, Irak, dan Iran, serta pencabutan blokade terhadap Yaman. Kedua, penerapan gencatan senjata di Gaza. Dan ketiga, pemenuhan kewajiban pengiriman bantuan kemanusiaan serta hak-hak sah warga Palestina.
Dengan pernyataan ini, Houthi secara efektif mengirim sinyal bahwa peta perang di Timur Tengah tidak lagi hanya berpusat di Iran dan Israel, tetapi telah melebar ke Laut Merah dan melibatkan poros perlawanan di Yaman. Dunia kini menunggu langkah selanjutnya dari negara-negara Teluk dan apakah kondisi yang ditetapkan Houthi akan menjadi pemicu konflik terbuka yang lebih besar.
Menurut kalian, negara Teluk mana yang paling mungkin menjadi pemicu langkah Houthi ini? Atau ini hanya taktik perang psikologi? Tulis pendapatmu di kolom komentar! Jangan ketinggalan update terbaru seputar geopolitik Timur Tengah. Follow akun kami untuk berita terverifikasi setiap harinya.










