
Viral Prajurit Israel Hancurkan Patung Yesus di Lebanon, Umat Kristen di AS Geram
Sebuah patung Yesus di Lebanon selatan dihancurkan oleh prajurit Israel menggunakan godam. Videonya viral! Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, mengaku ‘terkejut dan sedih’. Tapi kemarahan justru memuncak dari sekutu terbesarnya sendiri, Amerika Serikat. Para politisi dan umat Kristen di AS mempertanyakan mengapa miliaran dolar pajak dan senjata mereka diberikan ke negara yang tega menodai simbol suci ini. Apa yang sebenarnya terjadi?
Prajurit Israel hancurkan patung Yesus di Lebanon, umat Kristen di AS geram
Sebuah foto dan video yang memperlihatkan seorang prajurit Israel memukul patung Yesus dengan godam di Lebanon selatan telah memicu kecaman luas di dunia maya. Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, mengatakan dirinya “terkejut dan sedih”.
Menteri Luar Negeri Israel, Gideon Saar, menyampaikan permintaan maaf kepada setiap umat Kristen yang perasaannya terluka. Warga setempat mengatakan patung itu berada pada sebuah salib di luar rumah sebuah keluarga di pinggiran Debel, salah satu desa yang penduduknya bertahan selama Israel memerangi Hizbullah.
Militer Israel mengonfirmasi keaslian gambar tersebut dan menyebut perilaku prajurit itu “sepenuhnya tidak sejalan dengan nilai-nilai pasukannya”.
Kabar ini mendorong Duta Besar AS untuk Israel, Mike Huckabee, yang juga seorang pendeta Kristen Protestan, untuk menuntut konsekuensi yang cepat dan berat. Para komentator sayap kanan AS pun geram.
Mantan anggota Kongres AS, Marjorie Taylor Greene, membagikan foto tersebut dan menulis dengan sindiran pedas: “‘Sekutu terbesar kami’ yang setiap tahun menerima miliaran dolar pajak dan senjata kami.”
Komentar ini sejalan dengan jajak pendapat Pew Research Center yang menunjukkan 60% orang dewasa AS memiliki pandangan negatif terhadap Israel, naik dari 53% tahun lalu.
Ini bukan insiden pertama yang menodai simbol-simbol Kristen. Bulan lalu, kepolisian Israel mencegah pemimpin tertinggi Katolik Roma di Yerusalem memasuki Gereja Makam Kudus.
Laporan tahun 2025 oleh Rossing Center menyebut adanya “lonjakan permusuhan terbuka terhadap Kekristenan” di Israel. Meskipun Netanyahu membantah dan menyatakan Israel menjunjung kebebasan beribadah, insiden-insiden seperti ini terus menggerus dukungan dan simpati global terhadap Israel.
Menurut kalian, apakah permintaan maaf Israel cukup atau harus ada tindakan tegas? Tulis pendapatmu! Jangan lupa follow, agar tidak ketinggalan berita terbaru lainnya.













