
Klaim Investasi 2.430 T Hasil Diplomasi Prabowo Disemprot PDIP: Informasi Teddy Menyesatkan!
SIPJOS.COM – Angka fantastis Rp2.430 triliun! Itulah total investasi yang disebut Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya sebagai hasil diplomasi luar negeri Presiden Prabowo. Namun, klaim ini langsung disemprot habis-habisan oleh PDIP. Politisi PDI Perjuangan, Mohamad Guntur Romli, menilai informasi Teddy menyesatkan. Alasannya? Sebagian besar investasi itu ternyata berasal dari DALAM NEGERI, bukan dari luar negeri. Simak perdebatan panasnya!
Guntur Romli: Mayoritas Investasi Dalam Negeri, Bukan Hasil Kunjungan Luar Negeri Prabowo
Pemirsa, perseteruan antara pihak istana dan oposisi kembali memanas kali ini soal data investasi. Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya baru-baru ini menyatakan bahwa total investasi yang masuk ke Indonesia selama satu setengah tahun terakhir mencapai sekitar Rp2.430 triliun. Teddy mengklaim angka ini adalah hasil nyata dari diplomasi luar negeri yang dilakukan Presiden Prabowo Subianto.
Teddy bahkan menyebut kunjungan Prabowo ke Jepang dan Korea Selatan pada bulan lalu berhasil menghasilkan komitmen investasi baru senilai sekitar Rp575 triliun. Klaim ini tentu menjadi pembenaran bagi pihak istana bahwa lawatan Presiden ke luar negeri membawa manfaat konkret. Namun, klaim ini tidak serta-merta diterima begitu saja oleh kubu oposisi.
Politikus PDI Perjuangan, Mohamad Guntur Romli, segera merespons pernyataan Teddy. Awalnya, Guntur mengaku sepakat bahwa total investasi Rp2.430 triliun memang masuk ke Indonesia. “Sampai di sini, Teddy benar,” tulis Guntur di akun X miliknya. Namun, Guntur menilai Teddy menyampaikan informasi yang sesat ketika mengklaim investasi tersebut sebagai hasil diplomasi luar negeri Prabowo.
Guntur membeberkan data yang membantah klaim tersebut. Menurutnya, dari total Rp2.430 triliun, sebanyak 52,6 persen atau sekitar Rp1.279,1 triliun berasal dari Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN). Sementara itu, Penanaman Modal Asing (PMA) hanya 47,4 persen atau sekitar Rp1.150,9 triliun. “Artinya, mayoritas uang yang benar-benar masuk adalah investor dalam negeri, bukan hasil kunjungan luar negeri Presiden Prabowo,” tegas Guntur.
Guntur juga mengungkap data yang lebih memprihatinkan terkait PMA. Berdasarkan informasi dari Kementerian Investasi dan BKPM, realisasi PMA sepanjang 2025 hanya tumbuh tipis 0,1 persen. “Ya, alias stagnan dan sangat anjlok jika dibanding pertumbuhan PMA pada 2024 yang mencapai 21 persen,” ujar Guntur. Data ini menjadi tamparan bagi klaim Teddy yang menyebut hasil diplomasi luar negeri Prabowo begitu besar.
Sebagai informasi, pernyataan Teddy sebenarnya merupakan respons terhadap kritik eks Wakil Menteri Luar Negeri Dino Patti Djalal yang mempertanyakan intensitas kunjungan luar negeri Prabowo. Teddy ingin membantah dengan menyodorkan angka investasi. Namun, PDIP justru membalikkan narasi dengan menunjukkan bahwa investasi didominasi modal dalam negeri, bukan dari hasil lawatan Presiden. Polemik data ini masih terus bergulir.













