Pengertian Senandika Dan Cara Penulisannya

1. Pengertian dan Penjelasan Tentang Senandika

Senandika menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia dan Wikipedia hampir sama.
Senandika adalah wacana seorang tokoh dalam karya kesusastraan dengan dirinya sendiri di dalam drama yang dipakai untuk mengungkapkan perasaan, firasat, konflik batin yang paling dalam dari tokoh tersebut, atau untuk menyajikan informasi yang diperlukan pembaca atau pendengar.

Senandika adalah jenis monolog yang diarahkan untuk diri sendiri. Selain itu juga merupakan curahan hati dari penulisnya seperti: rasa rindu, jatuh cinta, sedih, galau, bimbang dan marah kepada sosok kau.

Senandika bisa juga disebut prosa naratif karena bercerita tentang perasaan si penulis.

Senandika sering digunakan dalam drama, tetapi tidak lagi populer ketika drama bergeser ke aliran realisme di akhir abad ke-18. Tetapi saat ini, dengan pembatasan anggaran di teater, mereka menjadi populer lagi.

Contoh-contoh yang baik dalam sastra dapat dilihat dalam kata-kata karakter Iago, yang memiliki peran utama dalam drama terkenal Shakespeare, Othello.

Contoh-contoh bentuk senandika sekarang ditemukan dalam sitkom Lizzie McGuire dan drama politik House of Cards.

2. Cara Penulisan Senandika

• Senandika tidak mempunyai aturan dalam penulisannya. Bahasa yang digunakan adalah bahasa sehari-hari yang mudah dicerna. Penggunaan kata aku, hamba, daku, saya, kau, kamu, dikau, anda lebih dominan.

• Tidak berima

• Sesuai dengan kondisi hati

Baca Juga:   Kesalahan Pada Sebuah Tulisan

• Diksi yang seimbang
Contoh: Sang mentari mengiringi langkahku senja ini. Aku berjalan dengan gontai.

• Tidak berbelit-belit dan sebisa mungkin menghindari penggunaan kata yang sama.
Contoh: Perempuan yang duduk di sampingmu telah menghancurkan asa yang sempat hadir. Dia sangat serasi duduk bersanding denganmu.

Penggunaan kata perempuan di kalimat pertama diganti dengan kata dia di kalimat ke dua.

Contoh Senandika

Buat Yang Terkasih

Bumi terasa berputar demikian cepatnya. Tanpa terasa usiaku kini telah menua. Kupandangi wajahku di cermin. Guratan-guratan itu tampak jelas di wajahku.

Lalu apa yang sudah kulakukan untuk hidupku sepanjang usiaku. Aku tak tahu apakah hadirku ini dapat memberikan manfaat untukmu dan untuk banyak orang. Perjalanan hidupku yang tertatih-tatih menggapai harapan adalah perjuanganku.

Senyummu senantiasa memberi semangat hidupku. Terima kasih karena kau sudah menemani hari-hariku. Kita bersama dalam bahagia dan nestapa.

Demikianlah serba sedikit tentang senandika yang dapat kita gunakan mengurai rasa yang mendera jiwa. Semoga bermanfaat

Reviews

0 %

User Score

0 ratings
Rate This

Sharing