Purbaya soal Rupiah Jebol Rp17.700: Dijelek-jelekin Terus di TikTok

SIPJOS.COM – Belakangan ini rupiah terus melemah hingga menyentuh level Rp17.700 per dolar AS. Tapi tahukah Anda, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa punya analisis yang unik soal penyebabnya.

Bukan hanya faktor global, tapi juga karena media sosial. Khususnya TikTok! Purbaya bahkan mengaku ‘terpaksa’ membuka aplikasi tersebut karena ramai konten yang ‘menjelek-jelekkan’ kondisi ekonomi. Juga menakut-nakuti dengan isu krisis 1998. Lantas, bagaimana tanggapan Purbaya? Simak selengkapnya.

Purbaya Blak-blakan: Rupiah Jebol Rp17.700 Dipengaruhi TikTok yang Suka ‘Jelek-jelekin’!

Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa angkat bicara soal pelemahan rupiah yang sempat menyentuh level Rp17.700 per dolar AS. Dalam konferensi pers APBN Kita di kantor Kementerian Keuangan, Jakarta Pusat, Selasa (19/5), Purbaya melontarkan pengamatan yang menarik.

Menurutnya, selain faktor global, sentimen negatif di media sosial, terutama TikTok, turut mempengaruhi persepsi masyarakat terhadap rupiah.

Purbaya mengaku bahwa narasi soal ekonomi Indonesia menuju krisis seperti tahun 1998 banyak beredar di TikTok. “Mereka bilang menuju krisis 97-98. Banyak yang bilang gitu kan di TikTok.

Saya sekarang terpaksa lihat TikTok deh karena yang lain juga lihat TikTok,” ujar Purbaya dengan nada setengah mengeluh. Ia menambahkan bahwa pelemahan rupiah, to some extent atau sampai batas tertentu, dipengaruhi oleh konten-konten yang terus “menjelek-jelekkan” kondisi ekonomi.

Namun, Purbaya tidak hanya berkeluh kesah. Ia membawa data untuk mematahkan isu-isu negatif tersebut. Mantan Ketua Dewan Komisioner LPS itu menegaskan bahwa data penerimaan pajak hingga April 2026 justru menunjukkan kondisi ekonomi domestik masih sangat kuat.

Baca Juga:   Partikel Di- dan ke-

Penerimaan pajak tercatat naik 16 persen secara tahunan, sejalan dengan pertumbuhan aktivitas ekonomi dan implementasi Coretax yang diklaim semakin baik.

Purbaya menyoroti secara khusus kenaikan PPh orang pribadi dan PPh 21 yang tumbuh hingga 21 persen. “Ini kan yang menarik, PPh orang pribadi dan PPh 21 kan.

Ini pajak penghasilan, gaji karyawan. Tumbuhnya 21 persen berarti kan kuat,” tegasnya. Artinya, gaji dan penghasilan masyarakat secara umum masih mengalami peningkatan.

Selain pajak penghasilan, Purbaya juga menyoroti kenaikan Pajak Pertambahan Nilai (PPN) dan Pajak Penjualan atas Barang Mewah (PPnBM) yang tumbuh hingga 40,2 persen.

Menurutnya, pertumbuhan yang sangat tinggi ini menunjukkan bahwa aktivitas konsumsi dan belanja masyarakat masih bergairah. “Ini PPN dan PPnBM yang naik tumbuhnya 40 persen menunjukkan bahwa aktivitas ekonomi memang masih tinggi karena belanja dan segalanya masih tinggi,” ujar Purbaya.

Dengan data-data ini, Purbaya dengan tegas mematahkan anggapan yang menyebut ekonomi Indonesia tengah mengalami perlambatan signifikan. “Ini semua mematahkan tuduhan bahwa ekonomi sedang melambat dengan signifikan,” pungkasnya.

Masyarakat diimbau untuk tidak mudah terpengaruh oleh konten-konten negatif di media sosial, karena data resmi pemerintah menunjukkan fundamental ekonomi yang masih sehat.

Sharing